06. Kitab Jauharul Maknun : Tujuan Menyampaikan Khabar (Informasi) dan Caranya

Blog Santri Blogger - Alhamdulillah setelah merampungkan materi ke 05 , kita dapat bertemu lagi pada materi Kitab Jauharul Maknun yang ...


06. Kitab Jauharul Maknun : Tujuan Menyampaikan Khabar (Informasi) dan Caranya

Blog Santri Blogger - Alhamdulillah setelah merampungkan materi ke 05, kita dapat bertemu lagi pada materi Kitab Jauharul Maknun yang ke 06 tentang Tujuan Menyampaikan Khabar (Informasi) dan Caranya.

Pada materi 05 kita sudah mengulas tentang Isnad khabari dan pengertian khabar itu sendiri. Sekarang kita membahas tentang tujuan dari penyampaian suatu informasi dan bagaimana cara yang benar dalam menyampaikannya.

Tujuan Menyampaikan Khabar (Informasi)


وَ قَصْدُ ذِي الْخِطَابِ.......                             
إِفَادَةُ السَّامِعِ نَفْسَ الْحُكْمِ أَوْ كَوْنَ مُخْبِرٍ بِهِ ذَا عِلْمٍ. 
 Adapun tujuan orang berbicara ialah memberi kepahaman kepada pendengar akan satu hukum atau memberitahu bahwa pembicarapun mengetahui.”
فَأَوَّلٌ فَائِدَةٌ وَ الثَّانِيْ            لَازِمُهَا عِنْدَ ذَوِي الْأَذْهَانِ 
“Maka yang pertama itu disebut fa’idatul-khabar dan yang kedua disebut lazimat faidatil khabar menurut orang-orang yang berakal.”
Dari bait diatas Muallif memberitahukan kepada kita bahwa tujuan seseorang memberikan informasi (khabar) itu ada 2 (dua) kemungkinan :

  1. Faidatul Khabar (فائدة الخبر) yaitu memberitahukan sebuah informasi kepada mukhatab yang belum tahu informasi (khabar) tersebut. contoh : زَيْدٌ كَاذِبٌ "Zaid seorang pembohong"
  2. Lazimu Faidatil Khabar (لازم فائدة الخبر) yaitu menyampaikan informasi kepada mukhatab yang sudah tahu informasi tersebut, supaya mukhatab mengetahui bahwa mutakallim juga tahu informasi itu. Contohnya adalah اللهُ عَلِيْمٌ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ "Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dalam dada"

Kondisi yang tidak sesuai dengan tujuan penyampaian informasi

Kedua tujuan diatas, sangat bergantung kepada kondisi (hal) dari mukhatab, ketika menerima informasi yang disampaikan oleh mutakallim. Meskipun begitu, ada beberapa kondisi yang tidak sesuai dengan peraturan diatas, seperti diungkapkan Muallif pada bait berikut ini:

وَ رُبَّمَا أُجْرِيَ مَجْرَى الْجَاهِلِ مُخَاطَبٌ إِنْ كَانَ غَيْرَ عَامِلِ. 
“Dan terkadang diperlakukan seperti orang bodoh, yaitu mukhathab (yang mengerti) jika ia tidak mengamalkannya.”
كَقَوْلِنَا لِعَالِمِ ذِيْ غَفْلَةٍ الذِّكْرُ مِفْتَاحٌ لِبَابِ الْحَضْرَةِ 
“Seperti ucapan kita kepada orang ‘alim yang lupa (mengingat Tuhan/dzikrullah): Zikir itu kunci pembuka pintu ke hadlirat Allah.”
Kondisi dimana mukhatab sebenarnya adalah orang yang sudah tahu adanya berita dan tahu mutakallim juga mengetahui berita tersebut, terkadang disamakan dengan mukhatab yang tidak tahu. Hal itu disebabkan dirinya tidak mau menjalankan apa yang telah diketahui.

Contohnya : ada orang 'alim yang tidak ingat kepada Allah, padahal dia tahu hal itulah yang mampu membuka pintu ma'rifat kepada-Nya. Kita ucapkan kepadanya الذِّكْرُ مِفْتَاحٌ لِبَابِ الْحَضْرَةِ.

Ucapan ini berlaku juga bagi setiap penuntut ilmu yang lupa kalau mengingat Allah adalah kunci keberhasilan dalam mendapatkan ilmu.

Demikian juga untuk orang yang meninggalkan Sholat yang tahu dengan kewajiban sholat tapi tidak mau melakukannya, dia diposisikan sebagai orang yang tidak tahu. Kita ucapkan kepadanya : Sholat itu wajib (الصلاة واجبة)

Pelajaran yang dapat kita ambil dari dawuh muallif adalah :
Orang yang 'Alim namun tidak mau mengamalkan ilmunya, maka posisinya sama dengan orang yang bodoh.
Seorang penuntut ilmu seharusnya tahu bahwa kunci keberhasilannya ada pada selalu mengingat Allah, maka mulailah untuk melanggengkan dzikir dan wirid, selama tidak mengganggu kegiatan belajar. 
Selanjutnya kita membahas tentang tata cara menyampaikan sebuah kabar atau informasi

Tata Cara Menyampaikan Khabar (Informasi)


فَيَنْبَغِي اقْتِصَارُ ذِي الْأَخَيَارِ عَلَى الْمُفِيْدِ خَشْيَةَ الْإِكْثَارِ 
Seharusnya (dalam memberikan kabar) pemberi kabar meringkas terhadap apa yang memberikan faidah karena kuatir memperbanyak omongan.
فَيُخْبِرُ الْخَالِيْ بِلَا تَوْكِيْدٍ مَا لَمْ يَكُنْ فِي الْحُكْمِ ذَا تَرْدِيْدٍ
فَحَسَنٌ وَ مُنْكِرُ الْأَخَبَارِ حَتْمٌ لَهُ بِحَسَبِ الْإِنْكَارِ 
“Bagi mukhatab khali dzihni, berita disampaikan dengan tanpa taukīd, selama dia tidak ragu-ragu. Apabila dia ragu maka sebaiknya memakai taukīd. Adapun bagi mukhatab yang mengingkari berita, maka wajib memakai taukīd dengan memperhitungkan keingkarannya.”
كَقَوْلِهِ إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُوْنَ فَزَادَ بَعْدُ مَا اقْتَضَاهُ الْمُنْكِرُوْنَ 
“Seperti firman Allah s.w.t.: Sesungguhnya kami diutus kepada kamu sekalian. Maka mutakallim menambah alat taukīd sesudah memperhatikan kondisi mukhāthabnya yang diperlukan sesuai dengan keingkarannya.” 

Muallif memberikan patokan dalam menyampaikan suatu kabar berita, agar bisa diterima dengan baik oleh mukhatab. Patokan tersebut adalah :

  1. Ketika menyampaikan suatu informasi berita, maka tidak usah panjang-panjang. Langsung kepada inti masalah agar tidak bertele-tele tanpa faidah.
  2. Mukhatab itu ada 3 (tiga) Khalidz Dhihni (belum tahu dengan berita), Mutaraddid (masih ragu-ragu), dan Munkir (ingkar terhadap berita).
  3. Dalam menyampaikan berita kepada ketiga mukhatab tersebut, harus sesuai dengan polanya masing-masing.
  4. Berita yang disampaikan kepada Mukhatab khalidz dzihni tidak usah memakai taukid. Contoh زَيْدٌ قَائِمٌ
  5. Berita yang disampaikan kepada Mukhatab Mutaraddid lebih baik menggunakan taukid. Contoh لَزَيْدٌ قَائِمٌ
  6. Berita yang disampaikan kepada Mukhatab Munkir harus memakai taukid. Contoh إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ
  7. Pemberian taukid kepada mukhatab munkir disesuaikan denga tingkat ingkarnya. Bila dia sangat ingkar maka taukid harus ditambah. Contoh : إِنَّ زَيْدًا لَقَائِمٌ. Contoh lain seperti perkataan utusan Nabi ‘Īsā a.s. yang pertama kali:  (إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُوْنَ), kemudian kedua kalinya: (رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُوْنَ).

Istilah-istilah Kalam menurut pola penyampaiannya kepada mukhatab


لِلَّفْظِ الْاِبْتِدَاءِ ثُمَّ الطَّلَبِ ثُمَّتَ الْإِنْكَارِ الثَّلَاثَةِ انْسُبِ 
“Nisbatkatlah ketiga macam pola kalam itu dengan: kalām ibtida’ untuk yang pertama, lalu kalam thalab untuk yang kedua, dan kalām inkari untuk yang ketiga.”

Tata cara penyampaian berita yang telah disebutkan diatas mempunyai istilah masing-masing berdasarkan polanya:

  1. Kalam yang disampaikan kepada khalidz dzihni dengan tanpa menggunakan taukid disebut Kalam Ibtidaiy (كلام إبتدائي)
  2. Kalam yang disampaikan kepada mutaraddid yang baik menggunakan taukid disebut Kalam tholabiy(كلام طلبي)
  3. Kalam yang disampaikan kepada munkir dengan harus menggunakan taukid disebut Kalam inkariy(كلام إنكاري)

Situasi yang diperbolehkan tidak sesuai dengan aturan menyampaikan kalam


وَ اسْتُحْسِنَ التَّأْكِيْدُ إِنْ لَوَّحْتَ لَهُ بِخَبَرٍ كَسَائِلٍ فِي الْمَنْزِلَةْ 
“Dan dianggap baik memakai taukīd, ketika kamu mengisyaratkan  kepada mukhāthab (khalidz dzihni) dengan suatu kabar, dia (terlihat) seperti orang bertanya dalam derajatnya.”

Maksudnya: dianggap baik memakai taukid dalam menyampaikan berita kepada khalīdz dzihni, bila ia memperlihatkan sikap bertanya atau tanda-tanda keraguan.

Contohnya seperti firman Allah s.w.t. kepada Nabi Nūḥ a.s.:

وَ لَا تُخَاطِبْنِيْ فِي الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا
“Janganlah engkau berdoa kepada-Ku mengenai orang-orang zhalim itu.”

Lalu Allah melanjutkan firman-Nya: (إِنَّهُمْ مُغْرَقُوْنَ)= “sesungguhnya mereka ditenggelamkan”. Dengan menggunakan taukīd (إِنَّ) dan jumlah ismiyyah.


وَ الْحَقُوْا أَمَارَةَ إِلْإِنْكَارِ بِهِ كَعَكْسِهِ لِنُكْتَةٍ لَمْ تَشْتَبِهْ 
“Para ulama menyamakan tanda-tanda ingkar dengan ingkar, demikian juga sebaliknya, karena ada tanda-tanda yang jelas.”

Adapun contoh ada tanda ingkar padahal tidak, seperti kata sya‘ir kepada Syaqiq:

جَاءَ شَقِيْقٌ عَارِضًا رُمْحَهُ    إِنَّ بَنِي عَمِّكَ فِيْهِمْ رِمَاحٌ 
Syaqiq telah datang sambil melintangkan tombaknya, "sesungguhnya anak-anak pamanmu mempunyai tombak yang banyak".
Syaqiq yang datang berperang dengan membawa tombak sambil diseret dianggap oleh sya'ir sebagai orang yang tidak siap-siap untuk berperang. Padahal lawannya yaitu saudara-saudara sepupunya telah siap dengan menghunuskan tombaknya.

Tombak yang dibawa dengan diseret atau tidak di hunus adalah tanda-tanda ingkar, yang oleh sya'ir diposisikan sebagai ingkar.

Sedangkan contoh yang mungkir dianggap mengaku, seperti kata orang Islam kepada orang kafir yang bila mau berpikir mereka akan tahu dengan tanda-tanda yang jelas: (الْإِسَلَامُ حَقٌّ), seharusnya memakai taukīd: (إِنَّ الْإِسْلَامَ حَقٌّ) atau (إِنَّ الْإِسْلَامَ لَحَقٌّ).


Alhamdulillah selesai juga materi Kitab Jaharul Maknun yang ke 06 Tujuan Menyampaikan Khabar (Informasi) dan Caranya. Semoga lelah ini menjagi surga .... hehe...helehhhh.... sampai jumpa di materi selanjutnya.

Istiqomah Ngaji .... ora lali Ngopi ....ben dadi Happy.

COMMENTS

Name

Alfiyyah,4,Ilmu Alat,1,Ilmu Maani,10,Jauhar Maknun,10,Nahwu,5,Sastra Arab,10,
ltr
item
Blog Santri Blogger: 06. Kitab Jauharul Maknun : Tujuan Menyampaikan Khabar (Informasi) dan Caranya
06. Kitab Jauharul Maknun : Tujuan Menyampaikan Khabar (Informasi) dan Caranya
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9-QgN_EY-LXQEOkcpxnyITmwIPiK3HxYBhN4IwB-VD0HeJyl0MsXKNljydclmzoZI9f09-rPgJhm9VShQTi01T4IAK4wzyz9pu_3eCr4_Eu2fU_wmtyi6esivVUs7MMAYR6leKpqX2Uci/s400/06.+Kitab+Jauharul+Maknun+Tujuan+dan+Cara+Menyampaikan+Informasi.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9-QgN_EY-LXQEOkcpxnyITmwIPiK3HxYBhN4IwB-VD0HeJyl0MsXKNljydclmzoZI9f09-rPgJhm9VShQTi01T4IAK4wzyz9pu_3eCr4_Eu2fU_wmtyi6esivVUs7MMAYR6leKpqX2Uci/s72-c/06.+Kitab+Jauharul+Maknun+Tujuan+dan+Cara+Menyampaikan+Informasi.jpg
Blog Santri Blogger
https://blogtriger.blogspot.com/2018/12/06-tujuan-menyampaikan-kabar-dan-caranya.html
https://blogtriger.blogspot.com/
https://blogtriger.blogspot.com/
https://blogtriger.blogspot.com/2018/12/06-tujuan-menyampaikan-kabar-dan-caranya.html
true
3880448112313507583
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy