Postingan kali ini kita akan membahas tentang Materi Ilmu Balaghoh yang ada dalam kitab Jauhar Maknun. Kitab kecil yang menyimpan begitu banyak nilai dan manfaat seperti namanya Jauhar Maknun yang berati Mutiara yang Tersimpan. Berikut ini Terjemah Jauhar Maknun bagian pertama Muqoddimah.
Postingan kali ini kita akan membahas tentang Materi Ilmu Balaghoh yang ada dalam kitab Jauhar Maknun. Kitab kecil yang menyimpan begitu banyak nilai dan manfaat seperti namanya Jauhar Maknun yang berati Mutiara yang Tersimpan. Berikut ini Terjemah Jauhar Maknun bagian pertama Muqoddimah.
| الْحَمْدُ للهِ الْبَدِيْعِ الْهَادِيْ | إِلَى بَيَانِ مَهْيَعِ الرَّشَادِ |
|---|
“Segala puji bagi Allah Dzat yang telah menciptakan makhluk-makhlukNya tanpa contoh, dan Dzat yang telah memberikan petunjuk hamba-Nya ke jalan yang benar (Agama Islam).”
| أَمَدَّ أَرْبَابَ النُّهَى وَ رَسَمَا | شَمْسَ الْبَيَانِ فِيْ صُدُوْرِ الْعُلَمَاءِ |
|---|
“Ia (Allah) telah memberikan pertolongan kepada orang-orang yang sempurna akalnya dan Dia telah menetapkan penjelasan (kaidah-kaidah) yang terang yang seperti terangnya matahari dalam hati para Ulama.”
Maksudnya: Allah telah memberikan taufiq kepada orang-orang yang sempurna akalnya, sehingga mereka dapat berfikir dengan menghasilkan kaidah-kaidah hukum Ilmu Bayān yang dapat menerangi kegelapan hati para Ulama, laksana terangnya matahari di siang hari.
| فَأَبْصَرُوْا مُعْجِزَةَ الْقُرْآنِ | وَاضِحَةً بِسَاطِعِ الْبُرْهَانِ |
|---|
“Maka para Ulama dapat melihat mukjizat al-Qur’an secara jelas dengan dalil yang jelas pula.”
- Al-Qur’an itu sungguh firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. bukan karangan Nabi Muhammad s.a.w. sendiri.
- Bahasa al-Qur’an itu sangat baik dan susunan kalimatnya sangat indah, isinya mencakup segala peristiwa yang terjadi di dunia dan di akhirat, sehingga al-Qur’an tidak dapat ditiru oleh siapapun. Dan al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad s.a.w. yang terbesar.
| وَ شَاهَدُوْا مَطَالِعَ الْأَنْوَارِ | وَ مَا احْتَوَتْ عَلَيْهِ مِنْ أَسْرَارِ |
|---|
“Dengan pandangan batinnya itu, para Ulama dapat menyaksikan pula akan sumber cahaya (ilmu Allah) dan segala sesuatu yang tercakup di dalamnya yang terdiri dari bermacam-macam rahasia ilmu.”
| فَنَزَّهُوا الْقُلُوْبَ فِيْ رِيَاضِهِ | وَ أَوْرَدُوا الْفِكْرُ عَلَى حِيَاضِهِ |
|---|
“Maka
hati para Ulama riang gembira merasa terpesona dan senang sekali dalam
menyelami isi al-Qur’an laksana melihat taman yang indah dan mereka
mencurahkan pikiran dan perhatiannya dalam menghayati isi al-Qur’an yang
dimisalkan dengan laksana danau yang luas.”
Maksudnya: Para Ulama sangat senang dapat melihat maknanya al-Qur’an yang indah dan dapat mengambil makna-maknanya al-Qur’an dengan kekuatan pikirannya.
| ثُمَّ صَلَاةُ اللهِ مَا تَرَنَّمَا | حَادٍ يَسُوْفُ الْعَيْسَ فِيْ أَرْضِ الْحَجَا |
|---|
“Kemudian rahmat ta‘zhīm Allah selama bernyanyi orang-orang yang menggiring untanya di tanah Hijāz.”
| عَلَى نَبِيِّنَا الْحَبِيْبِ الْهَادِيْ | أَجَلِّ كُلَّ نَاطِقٍ بِالضَّادِ |
|---|
“Semoga
dilimpahkan kepada Nabi kita yang tercinta dan yang menunjukkan ke
jalan yang benar, sebaik-baik orang yang mengucapkan huruf Dhād.”
| مُحَمَّدٍ سَيِّدِ خَلْقِ اللهِ | الْعَرَبِيِّ الطَّاهِرِ الْأَوَّاهِ |
|---|
“(Yaitu) Nabi Muhammad s.a.w. makhluk Allah yang paling mulia, Bangsa ‘Arab, yang suci lagi sering mengadu karena takut oleh Allah.”
| ثُمَّ عَلَى صَاحِبِهِ الصِّدِّيْقِ | حَبِيْبِهِ وَ عُمَرُ الْفَارُوْقِ |
|---|---|
| ثُمَّ أَبِيْ عَمْرٍ وَ إِمَامِ الْعَابِدِيْنَ | وَ سَطْوَةِ اللهِ إِمَامِ الزَّاهِدِيْنَ. |
“Kemudian
rahmat Allah itu bagi sahabat dan kekasihnya, yaitu: Abū Bakar Shiddīq,
‘Umar al-Fārūq, kemudian Abū ‘Amr pemimpin ahli ibadah (‘Utsmān bin
‘Affān), dan bagi prajurit Allah pemimpin ahli zuhud (‘Alī bin Abī
Thālib r.a.).”
- Nama Abū Bakar adalah 'alam kun-yah, adapun nama aslinya, ialah ‘Abdullāh.
- Sahabat ‘Umar dijuluki: Al-Fārūq (pemisah), yaitu karena tegas dalam membedakan antara yang benar (haqq) dan yang salah (bāthil)
- Sahabat Abū ‘Amr, ialah Sahabat ‘Utsmān bin ‘Affān r.a.
- Sathwatullāh, ialah Sahabat ‘Alī bin Abī Thālib r.a.
| ثُمَّ عَلَى بَقِيَّةِ الصَّحَابِةِ | ذَوِي التُّقَى وَ الْفَضْلِ وَ الْإِنَابَةِ |
|---|---|
| وَ الْمَجْدِ وَ الْفُرْصَة ِ وَ الْبَرَاعَةِ | وَ الْحُزْمِ وَ النَّجْدَةِ وَ الشَّحَاعَةِ |
| مَا عَكَفَ الْقَلْبُ عَلَى الْقُرْآنِ | مُرْتَقِيًا لِحَضْرَةِ الْعِرْفَانِ |
“Kemudian
bagi sahabat-sahabat lainnya, yang penuh taqwa, mempunyai keutamaan, yang kembali kepada Allah,
yang mulia-mulia, yang menerima pemberian, yang mempunyai keunggulan,
yang teguh pendirian, penolong dan pemberani, selama hati mereka
berpegang kepada al-Qur’an sambil meningkat ke hadirat Allah s.w.t.”
| هذَا وَ إِنَّ دُرَرَ الْبَيَانِ | وَ غُرَرَ الْبَدِيْعِ وَ الْمَعَانِيْ |
|---|---|
| تَهْدِيْ إِلَى مَوَارِدٍ شَرِيْفَةٍ | وَ نَبَذٍ بَدِيْعَةٍ لَطِيْفَةٍ |
“Yang
demikian ini, sesungguhnya masalah-masalah Ilmu Bayān yang seperti
mutiara dan masalah-masalah Ilmu Badī‘ dan Ma‘ānī yang seperti tanda
coklat di atas dahi kuda (terlihat begitu manis), menunjukkan kepada tempat-tempat
yang mulia dan arti yang indah nan lembut.”
| مِنْ عِلْمِ أَسْرَارِ اللِّسَانِ الْعَرَبِيْ | وَ دَرْكِ مَا خُصَّ بِهِ مِنْ عَجَبِ |
|---|---|
| لِأَنَّهُ كَالرُّوْحِ لِلْإِعْرَابِ | وَ هُوَ لِعِلْمِ النَّحْوِ كَاللُّبَابِ |
“Yaitu dapat mengetahui rahasia Bahasa ‘Arab, dan dapat menemukan keajaiban yang hanya dapat ditemukan dalam Bahasa ‘Arab.
Karena ilmu-ilmu itu merupakan ruh bagi lafazh yang di-i‘rāb-i dan bagi ilmu Nahwu merupakan intisarinya.”
Dan merupakan ruh bagi ilmu Nahwu, sebab ilmu Nahwu itu mengatur i‘rāb kalimat, sedangkan ilmu Ma‘ānī, Bayān dan Badī‘, menyoroti makna yang terkandung dalam kalimat itu.
| وَ قَدْ دَعَى بَعْضٌ مِنَ الطُّلَّابِ | لِرَجَزٍ يَهْدِيْ إِلَى الصَّوَابِ |
|---|
“Sebagian pelajar telah meminta kepadaku agar aku menulis dengan bahar rajaz yang dapat menunjukkan kepada kebenaran.”
| فَجِئْتُهُ بِرَجَزٍ مُفِيْدٍ | مُهَذَّبٍ مُنَقَّحٍ سَدِيْدٍ |
|---|
“Maka akupun penuhi permintaan itu dengan bahar rajaz berfaedah yang dibersihkan dari hal-hal yang tak berfaedah, lagi yang benar.”
| مُلْتَقِطَا مِنْ دُرَرِ التَّلْخِيْصِ | جَوَاهِرًا بَدِيْعَةَ التَّلْخِيْضِ |
|---|
“Kami
mengambil bahan-bahan dari masalah-masalah yang tercantum dalam kitab
Talkhīsh (karangan Syaikh Khathīb Qazwinī), yaitu berupa mutiaranya yang
baik dan bersih dari masalah yang kurang penting.”
| سَلَكْتُ مَا أَبْدَى مِنَ التَّرْتِيْبِ | وَ مَا أَلَوْتُ الْجُهْدَ فِي التَّهْذِيْبِ |
|---|
“Kami susun sebagaimana kitab Talkhīsh itu serta kami tidak mengenal lelah dalam membersihkannya.”
| سَمَّيْتُهُ بِالْجَوْهَرِ الْمَكْنُوْنِ | فِيْ صَدَفِ الثَّلَاثَةِ الْفُنُوْنِ |
|---|
“Aku beri nama kitab ini dengan “Jauhar-ul-Maknūn” dalam menghimpun tiga fan (ilmu) yaitu: Ma‘ānī, Bayān dan Badī‘.”
| وَ اللهَ أَرْجُوْ أَنْ يَكُوْنَ نَافِعًا | لِكُلِّ مَنْ يَقْرَؤُهُ وَ رَافِعًا |
|---|
“Kami mengharap, semoga Allah memberi manfa‘at kepada setiap orang yang membaca dan mengangkat derajatnya.”
| وَ أَنْ يَكُوْنَ فَاتِحًا لِلْبَابِ | لِجُمْلَةِ الْإِخْوَانِ وَ الْأَصْحَابِ |
|---|
“Dan semoga Allah membuka pintu ilmu-Nya kepada semua saudara dan sahabat/teman.”
- Ilmu Ma‘ānī, untuk menjaga dari kesalahan dalam pengertian maksud pembicaraan atau penulisan.
- Ilmu Bayān, untuk menjaga dari pengertian yang tidak karuan.
- Ilmu Badī‘, untuk mengatur susunan kalimat yang baik/indah.
Sampai bertemu kembali pada materi selanjutnya.....

COMMENTS